Yogyakarta – Politeknik Agraria STPN melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPPM) bekerja sama dengan Sajogyo Institute (SAINS) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Dimensi Gender dalam Kajian Agraria: Mendorong Kepeloporan Perempuan dalam Tata Kelola Agraria Inklusif dan Berkeadilan” pada Kamis (4/6/2026). Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat diskusi mengenai pentingnya perspektif gender dalam pembangunan agraria serta mendorong keterlibatan perempuan sebagai aktor utama dalam mewujudkan tata kelola agraria yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Seminar nasional ini dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam pengelolaan agraria di Indonesia, mulai dari ketimpangan penguasaan sumber daya agraria, konflik pertanahan, hingga dampak pembangunan yang belum sepenuhnya mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan perempuan. Di sisi lain, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, serta kehidupan sosial masyarakat yang perlu mendapatkan ruang lebih besar dalam proses pengambilan kebijakan.
Berbagai pembahasan dalam seminar menyoroti keterkaitan antara isu gender dan agraria, termasuk pengalaman perempuan dalam menghadapi perubahan sosial-ekonomi akibat pemanfaatan sumber daya alam, tantangan yang dihadapi dalam memperoleh akses dan kontrol terhadap tanah, serta upaya mendorong kebijakan reforma agraria yang lebih responsif gender. Seminar juga mengangkat pentingnya penguatan peran perempuan dalam pembangunan agraria melalui pendidikan, pemberdayaan, dan kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial.
Kegiatan ini diikuti oleh sivitas akademika Politeknik Agraria STPN, dosen dan mahasiswa dari berbagai universitas, peneliti, praktisi, perwakilan kementerian dan lembaga, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap isu agraria dan kesetaraan gender. Kehadiran peserta dari beragam latar belakang diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan pertukaran gagasan dalam mewujudkan tata kelola agraria yang lebih inklusif.
Dalam keynote speech bertajuk “Kepeloporan Perempuan dan Peran Pendidikan Tinggi dalam Tata Kelola Agraria Masa Depan”, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad menyampaikan bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam menghadapi berbagai tantangan agraria yang semakin kompleks. Kepeloporan perempuan, baik di tingkat komunitas, birokrasi, maupun dunia akademik, menjadi modal penting dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya agraria yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Pendidikan tinggi juga dinilai memiliki tanggung jawab strategis dalam melahirkan pemimpin, peneliti, dan profesional agraria yang memiliki perspektif kesetaraan gender. Melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kampus diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan kajian agraria yang inklusif, memperkuat literasi hukum dan kebijakan, serta mendampingi masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak atas tanah dan ruang hidup.
Dari sisi kebijakan, Staf Ahli Bidang Partisipasi Masyarakat dan Pemerintah Daerah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Dr. Andi Tenri Abeng menjelaskan berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat pemberdayaan perempuan melalui implementasi Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2023 tentang Percepatan Pelaksanaan Reforma Agraria. Hingga tahun 2026, keterlibatan perempuan dalam program Penataan Akses Reforma Agraria secara nasional telah mencapai 38,5 persen atau sebanyak 76.515 subjek. Strategi Pengarusutamaan Gender (PUG) terus diintegrasikan dalam setiap tahapan program agar perempuan memiliki kesempatan yang lebih besar dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi.
Melalui seminar nasional ini, Politeknik Agraria STPN dan Sajogyo Institute berharap dapat memperkuat kesadaran bersama bahwa keterlibatan perempuan dalam tata kelola agraria bukan sekadar pemenuhan prinsip kesetaraan, melainkan menjadi prasyarat penting bagi terwujudnya reforma agraria yang berkeadilan, kedaulatan pangan, serta keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.